Gua nonton film ini, jadi inget buku-buku berjenis “Pilih Sendiri Sendiri Jalan dan Petualanganmu !”. Buku-buku yang ngelarang pembacanya untuk membaca halaman demi halaman. Buku-buku yang membuat pembacanya harus direpotkan dengan membulak-balikan halaman demi ngedapetin terusan ceritanya, yang didesain sedemikian rupa agar menarik dan memiliki banyak ending. Ya, film ini, kurang lebih kaya gitu.
Film ini mendadak jadi relevan dengan prolognya.
Ngerubah masa lalu, walau sekecil kepakan sayap kupu-kupu sekalipun bisa berimbas sedashyat angin topan yang mampu menyerbu sebagian belahan dunia. Ini menunjukkan bahwa perjalanan lintas ruang dan waktu adalah suatu hal yang sangat-sangat berbahaya. Penciptaan mesin waktu—kaya di film-film—adalah dosa yang tak termaafkan. Are humans trying to play as God ? That’s insane. Tapi semuanya ya, relatif. Siapa tau di masa depan yang namanya perjalanan antar ruang dan waktu itu bener-bener bisa terjadi. Siapa tau—kaya di film-film lagi—kalaupun mesin waktu ngga bisa diciptain, tapi ada crack di lubang waktu yang membuat dunia sekarang, jadi terhubung dengan dunia pararel. Emang bener-bener ada gitu, dunia pararel ?
Menurut gua dunia pararel adalah, sebuah dunia yang tercipta lewat manifestasi dalam bentuk ruang dan waktu yang lain, karena efek kedua atau ketiga yang muncul setelah satu pilihan diambil oleh manusia.
Inget ya, dalam setiap pilihannya manusia cuma bisa ngambil satu, ngga bisa dua atau lebih. Selalu antara A dan B. Atau kalau mau ambil A dan B dua-duanya, maka sesungguhnya kita menciptakan pilihan baru yaitu pilihan C.
A + B ≠ AB, tapi A + B = C.
Kalaupun kita ngga mau milih antara A dan B, maka sesimple-simplenya yaitu seperti ini,
A – B ≠ 0, atau A – B ≠ C, tapi A – B = D.
Hey, another choice.
Itu membuktikan bahwa biarpun manusia punya berjuta-juta pilihan dalam satu waktu, maka pada hakikatnya, ketika dia memilih, dia hanya memilih satu dari jutaan pilihan itu. Meski pilihannya ini merupakan hasil dari akumulasi pilihan-pilihan yang lain. Pokoknya tetep satu.